Loading...
bento jepang

Mengapa Murid Sekolah di Jepang Membawa Bekal Makan Siang

Lifestyle

Membawa bekal makan siang untuk disantap di tempat kerja atau belajar (seperti sekolah dan kampus) memang bukan monopoli satu kultur saja. Rasanya hal itu berlaku di belahan dunia manapun. Asia, Amerika, Eropa, di mana saja. Bekal makanan yang disiapkan dari rumah merupakan salah satu cara untuk menghemat pengeluaran makan siang. Atau untuk memastikan kalau makanan yang dikonsumsi baik kualitasnya karena homemade.

Ada alasan bagus mengapa hanya kultur budaya orang Jepang yang “serius” soal bekal makan siang ini jika dibandingkan negara lain. Disebut “Bento” yang berarti bekal makanan sudah jadi semacam kebiasaan orang-orang di Jepang. Mulai dari tingkatan sekolah dasar, sekolah mengengah, mahasiswa kuliahan hingga pekerja kantoran, mereka sering terlihat membawa dan mengonsumsi bento di saat jam makan siang.

Secara umum, bento di Jepang mulai dikenal dan perlahan menjadi kebiasaan warga di sana sejak lama sekali. bermula Di era Kamakura (tahun 1100-an), sudah dikenal nasi yang dikeringkan yang disebut ‘Hoshi-ii’ untuk dibawa sebagai bekal makan siang dari rumah. Hoshi-ii tadi bisa dimakan kering seperti kerupuk beras ataupun direbus kembali agar lunak.

Kemudian di era Azuchi-Momoyama (tahun 1500-an) kotak kayu berbentuk kotak mulai dipopulerkan untuk tempat menyimpan bekal.

Tradisi terus berlanjut ke era Edo (tahun 1600-1800). Bento bernama “Maku no Uchi” populer pada masa ini yang dikonsumsi ketika menonton Kabuki atau Wayang Orang versi Jepang. Dimana pada saat jeda petunjukan penonton akan memakan bekal bento mereka. “Maku” berarti ‘aksi/akting’. Sehingga bento Maku no uchi secara harfiah diartikan sebagai “bekal yang dimakan saat jeda aksi (pertunjukan Kabuki)”. Maku no uchi biasa terdiri dari onigiri, ikan panggang, sayuran segar dan telur gulung tamagoyaki.

Baca juga:  Hukum Baru Terkait Manga Ilegal Diberlakukan Di Jepang

Jepang memasuki era modernisasi di masa Restorasi Meiji (1868-1912). Berbagai kultur modern Barat mulai memasuki kultur bangsa Jepang. Pembangunan rel kereta api, yang kemudian menjadi bagian penting negara Jepang, juga memiliki pengaruh ke bento. Di mana bento mulai diperdagangkan sebagai produk makanan cepat saji di berbagai stasiun kereta api.

Jadi, alih-alih membuat dan membawa bento dari rumah, seseorang dapat membeli bento siap santap di stasiun kereta api. Kalau di Indonesia kurang lebih seperti membeli sarapan di warung makanan. Atau membeli makan siang di rumah makan tanpa perlu mempersiapkannya lebih dulu dari rumah.

“Ekiben” atau “Bento Stasiun Kereta Api” mulai dijual dan dipopulerkan di stasiun kereta api Utsunomiya, Prefektur Tochigi sekitar tahun 1885. Dan sejak saat itu hampir seluruh stasiun kereta api di Jepang memiliki kios yang menjual bento dalam berbagai isian dan jenis. Ada yang dibungkus rapi dalam kotak kayu maupun dalam kotak yang sekali pakai dan buang.

Ngomong-ngomong soal “model bento”, di era modern seperti sekarang ada banyak sekali jenis bento yang tersedia di Jepang. Di anime Jepang tentu sudah sering melihat dimana karakter dalam anime diberikan atau membawa bento yang dipersiapkan dari rumah. Secara umum bento yang ada di Jepang dapat di kategorikan dalam dua jenis yaitu Bento yang dipersiapkan dari rumah, dan Bento yang dibeli di stasiun atau kios bento lain seperti minimarket. Namun ada pula bento jenis lain dari kedua bento tadi, yaitu “Kiwami Bento” atau “Bento Kelezatan Sempurna”. Nama yang agak lebay ya?

Biasanya sebuah bento dihargai dengan nominal yang terjangkau, karena memang isi sebuah bento normalnya bukanlah menu gourmet atau berkelas seperti hidangan restoran mahal. Bento biasanya terdiri dari nasi, telur gulung, irisan ikan salmon, gurita bakar, sayuran maupun buah-buahan, serta berbagai jenis masakan lain. Tidak ada aturan mengenai isi dan jenis bento. Semua tergantung selera pembuat, sehingga harga tiap paket bento bisa sangat bervariasi.

Baca juga:  Cara Menghilangkan Bekas Jerawat Menggunakan Kunyit

Namun normalnya bento-bento jenis ini berharga terjangkau. Harga Ekiben viasanya dibawah 1000 Yen (Rp130.000) per paket. Untuk ukuran biaya makan siang di negara maju seperti Jepang, itu harga yang terjangkau. Berbeda dengan negara Indonesia yang harga rata-rata normal untuk makan siang masih ada di hanya sekitar Rp20.000 per paket.

Tapi harga tadi tidak berlaku untuk “bento elite” seperti Kiwami Bento. Contohnya bento yang dijual di Meat Yazawa, sebuah kios penjual bento spesial dengan varian menu dan harga di atas rata-rata produk ekiben.

Meat Yazawa yang terletak di departmen store Daimaru, Stasiun Tokyo, Jepang, ini menjual bento mulai dari harga 5,929 Yen (US$54) untuk bento “Gokuniku Bento” isi steak daging Hamburger dan 6,280 Yen untuk bento isi daging filet sirloin.

Tersedia “Zeitaku Bento” senilai 7.980 berisi dua jenis daging Hamburger dan filet.

Dan menu premium dari Meat Yazawa bernama “Kiwami Bento” dijual seharga 9.980 Yen atau Rp.1,3-Juta yang memiliki isian daging steak kelas tertinggi Wagyu A5. Wagyu A5 merupakan daging sapi premium yang sangat mahal sehingga memiliki kelas tertinggi di pasaran daging internasional.

Tentu tidak banyak orang yang sanggup (atau rela) mengeluarkan uang hingga satu juta empat ratus ribu rupiah untuk sekotak nasi dan beberapa potong daging sapi serta sayuran. Tapi pasar untuk bento mewah seperti itu tetap ada walau jumlahnya tentu saja tidak banyak.

Di Indonesia, membawa bekal makan siang sendiri merupakan solusi baik, sehat, dan hemat walaupun cenderung ribet. Akan tetapi konsep bento seperti kultur Jepang tidak akan berjalan di Indonesia karena kebiasaan turun temurun untuk membeli makan siang di warung nasi / restoran di jam makan siang masih sangat kuat. Menyiapkan bekal untuk makan siang semakin ditinggalkan banyak orang Indonesia karena dianggap merepotkan.

Baca juga:  Kebiasaan Orang Jepang Yang Harus Kamu Ikuti Kalau Kamu Punya Teman Orang Jepang

Memang lain kultur, lain kebiasaan. Bento boleh dibilang kebiasaan yang sudah ratusan tahun diturunkan di kalangan rakyat Jepang. Jadi tidak mengherankan kalau mereka masih mempraktekkan hal tersebut hingga hari ini. Hal ini murni merupakan kebiasaan kultural setempat, yang belum tentu dapat dilakukan di tempat lain.

Walaupun saya masih merasa aneh saat kultur di Indonesia menyalahkan micin/ mecin/ monosodium glutamate/ penyedap rasa makanan sebagai biang kerok kebodohan akademik orang Indonesia. Mengapa? Karena orang di Jepang juga mengonsumsi benda tersebut, dan kebanyakan dari mereka tidak bodoh secara akademik. Dan mereka tidak menyalahkan benda tadi sebagai penyebab kebodohan akademik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...